Merangkul Belasan Seniman Muda Lewat Pre-Biennale Event 2019

Biennale Jogja (BJ) adalah pameran karya seni yang rutin diselenggarakan dalam interval waktu dua tahun sekali sejak tahun 1998. “Berangkat dari peristiwa seni tahunan yang basisnya seni lukis, kemudian terus bertransformasi menemukan format baru sesuai dengan perkembangan jaman,” ungkap Alya, Direktur Biennale Jogja 2019 dalam acara pembukaan pameran, Kamis 01/08/2019 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM.

Pre-Biennale Event 2019
Pre-Biennale Event 2019

Mulai tahun 2011, Biennale Jogja bekerja di sekitar Khatulistiwa 23.27 derajad Lintang Utara dan Lintang Selatan. Khatulistiwa adalah titik berangkat dan akan menjadi common platform untuk ‘membaca kembali’ dunia. Biennale Jogja diorganisasi oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). YBY juga menyelenggarakan Simposium Khatulistiwa yang diadakan pada tahun berselang dengan even Biennale Jogja. Tahun 2019 Pre-Biennale Event akan diselenggarakan pada tanggal 1-20 Agustus di PKKH UGM.

YBY bertekad menjadikan Yogyakarta dan Indonesia secara lebih luas sebagai lokasi yang harus diperhitungkan dalam konstelasi seni rupa internasional. Dimulai pada tahun 2011, YBY akan menyelenggarakan BJ sebagai rangkaian pameran yang berangkat dari satu tema besar, yaitu EQUATOR (KHATULISTIWA). Dalam setiap penyelenggaraannya BJ bekerja dengan satu, atau lebih, negara, atau kawasan, sebagai ‘rekanan’, dengan mengundang seniman-seniman dari negara-negara yang berada di wilayah ini untuk bekerja sama.

Wilayah-wilayah di sekitar Khatulistiwa yang direncanakan akan bekerja sama dengan BJ sampai dengan tahun 2021 adalah: India (Biennale Jogja XI 2011), Negara-negara Arab (Biennale Jogja XII 2013), Negara-negara di benua Afrika (Biennale Jogja XIII 2015), Negara-negara di Amerika Latin (Biennale Jogja XIV 2017), Negara-negara di Kepulauan Pasifik dan Australia, termasuk Indonesia sebagai Nusantara (Biennale Jogja XV 2019) dan Negara-negara di Asia Tenggara (Biennale Jogja XVI 2021). BJ seri Khatulistiwa akan ditutup dengan KONFERENSI KHATULISTIWA pada tahun 2022.

Pameran Pre-Biennale Event di PKKH UGM menampilkan 16 karya yang terpilih dari 48 proposal yang masuk ke panitia. Terdiri dari 11 karya individu dan 5 karya kolaborasi kelompok seniman. Dari 16 karya ini kemudian akan dipilih 5 karya terbaik untuk di pamerkan dalam acara utama Biennale Jogja Equator Oktober mendatang.

Usaha penjaringan seniman muda dengan usia di bawah 35 tahun ini dirasa penting untuk merangkul dan memberi ruang bagi seniman muda yang di Yogyakarta, juga sebagai cara untuk menjalankan salah satu fungsi perhelatan ini, yakni usaha-usaha pendidikan seni. “Acara dua tahunan ini menjaring talenta muda yang memiliki imajinasi dan prestasi yang patut dikembangkan. Menjadi inspirasi pada dunia,” ungkap  Direktur Kemitraan, Alumni dan Urusan Internasional UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc.

Pre-Biennale Event 2019
Pre-Biennale Event 2019

Karya-karya yang ada dalam pameran ini menyoal isu-isu terkait sejarah, arsip, mitos, seni dan kebudayaan tradisional, lingkungan, medium karya, dan persoalan hidup kekinian. Karya-karya yang menyoal isu lingkungan antara lain berangkat dari riset artistik tentang Sungai Brantas dan tentang siklus daur ulang sampah. Ada pula karya yang coba merepresentasikan kaitan antara kondisi alam dan laku mengambil pasir untuk industri.

Narasi sejarah hadir, misalnya, dalam karya yang berangkat dari persoalan 1965. Sedangkan persoalan-persoalan hidup kekinian hadir antara lain dalam karya-karya yang menyinggung soal pusat perbelanjaan dan waktu istirahat, game online, serta pariwisata.  ‘Dari Batu, Air, dan Alam Pikir… untuk Udara dan Kehendak Bebas Manusia’ bisa diartikan sebagai ungkapan untuk merangkum narasi dan bentuk yang beragam dari pameran ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *