Teater Garasi, Waktu Batu: Rumah yang Terbakar di ARTJOG 2023

Teater Garasi, Waktu Batu: Rumah yang Terbakar di ARTJOG 2023

Ini adalah pertama kalinya aku menonton pertunjukan Teater Garasi, Waktu Batu: Rumah yang Terbakar. Di menit-menit pertama aku hanya bisa mengamati setiap gerak dan kata-kata yang diucapkan pemain di panggung. Sulit kupahami apa yang mereka lakukan di depan sana. Baru di pertengahan pertunjukan agak mengerti bahwa salah satu lakon yang dibawakan adalah kisah Watugunung. Kisah ini mirip dengan kisah Sangkuriang yang menikahi ibunya. Sudamala pergi meninggalkan rumah karena dipukul ibunya dan kena bagian kepala. Sudamala yang meninggalkan rumah sejak kecil, tidak mengingat wajah ibunya ketika bertemu kembali. Keduanya justru jatuh cinta dan menikah. Baru kemudian, ibunya menyadari bahwa suaminya juga adalah anaknya yang dulu kabur dari rumah.

Selain kisah Watugunung, Waktu Batu: Rumah yang terbakar ini juga bercerita mengenai Murwakala dan Sudalama. Murwakala adalah ruwatan untuk menghilangkan keburukan dan hal-hal negatif dari diri seseorang. Sedangkan Sudamala adalah kisah Sadewa yang meruwat Dewi Uma yang dikutuk menjadi Dewi Durga. Setelah berhasil meruwat, Sadewa diberi nama Sudamala dan Dewi Uma bisa Kembali ke kahyangan. Berdasarkan referensi ketiganya merupakan mitologi yang jejak naratifnya bisa ditemui di benda-benda cagar budaya seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Penampilan Teater Garasi apik dari segala segi, tidak hanya pemeran dengan keterampilan bermain yang mumpuni. Tapi juga ditunjang dengan keselarasan segala aspek dalam pertunjukan teater. Busana yang unik dan berkarakter, properti, tata lampu, sinematofrafi yang pas dan musik dari Majelis Lidah Berduri membuat pertunjukan Waktu Batu sungguh layak dinikmati. Bahkan sempat ada interaksi langsung dengan penonton dan bagian-bagian yang lucu. Yah, setidaknya jika tidak mengerti jalan ceritanya atau pesan yang disampaikan, bisa menikmati penampilan pemain dan visual  yang disuguhkan.

Sutradara pementasan, Yudi Ahmad Tajudin, mengungkapkan, ‘Waktu Batu: Rumah yang Terbakar’ yang dibawakan di ARTJOG 2023 merupakan versi terbaru atau versi ke 4 dari proyek panjang ‘Waktu Batu’ yang dimulai sejak tahun 2001. Yudi menjelaskan, Versi ke-4 Waktu Batu kali ini berkolaborasi dengan seniman seniman lintas disiplin, diantaranya Majelis Lidah Berduri, Mella Jaarsma, Deden Bulqini, Tomy Herseta, Tri Rimbawan, Yennu Ariendra, Retno Ratih Damayanti, Luna Kharisma, A. Semali. Selain itu juga melibatkan para performer lintas generasi. Antara lain, Andreas Ari Dwiyanto, Erythrina Baskorowati, Arsita Iswardhani, Tomomi Yokosuka. Enji Sekar Ayu, Wijil Rachmadani, Putu Alit Panca Nugraha, Syamsul Arifin dan Putri Lestari.

Dalam keterangan websitenya, Teater Garasi mendeskripsikan diri sebagai sebuah kolektif seniman lintas disiplin yang menjelajahi dan menciptakan berbagai kemungkinan seni pertunjukan sebagai bagian dari upaya memahami dan mementaskan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Teater Garasi didirikan pada tahun 1993 dan masih bisa eksis hingga saat ini. Bahkan mereka sangat mengikuti perkembangan zaman dengan eksplorasi visual dan sinematografi. Teater ini bahkan mendapatkan anugerah Prince Claus tahun 2013 dari Yayasan Keluarga Kerajaan Belanda (Prince Claus Fund), dengan pertimbangan, antara lain: “untuk semangat penjelajahan dan karya-karya inovatif yang merangsang seni pertunjukan di Asia Tenggara; … untuk menekankan serta merayakan sifat heterogen masyarakat Indonesia yang kompleks.

Berkembang menjadi Yayasan Teater Garasi pada tahun 2021, mereka memiliki beberapa program yang melibatkan publik. Seperti  penyebaran dan pertukaran pengetahuan (knowledge sharing and dissemination), produksi dan laboratorium pertunjukan (performance production and laboratory), serta seniman-tinggal (artist-in-residence). Sebagai sebuah kelompok teater yang cukup lama berdiri, Teater Garasi pasti akan selalu memiliki penggemar. Karena yang mereka persembahkan bukan hanya sekadar cerita di atas panggung. Tapi secara menyeluruh, merupakan cerminan kehidupan manusia saat ini. Dibingkai dalam kebebasan seni dan berkekspresi.

 

 

Kazebara

Suka menulis dan menikmati hidup saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *