Ditunda Karena Virus Corona, Ubud Food Festival 2020 Janji Hadirkan Lebih Dari 90 Pembicara Pada 26-28 Juni 2020

infoseni.id – Acara temu media dalam rangka menyambut Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC (UFF) sukses digelar Jumat (6/3) sore di SamaZana Restaurant, Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Dalam acara temu media kali ini, tim penyelenggara mengumumkan penundaan penyelenggaraan Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC sekaligus mengadakan kegiatan Food for Thought.

Ubud Food Festival merupakan acara penjelajahan kuliner lintas budaya selama tiga hari yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2015 silam. Ubud Food Festival yang sudah berjalan sebanyak enam kali, tahun ini bakal mengusung tema Heroes.

Dengan tema ini, diharapkan akan ada sinergitas antara sosok-sosok pahlawan makanan lokal dengan koki terkenal dari seluruh dunia guna mendorong pertukaran lintas budaya dan menciptakan kreasi baru.

Ubud Food Festival 2020 (3)

Gelaran Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC nantinya akan menghadirkan lebih dari 90 pembicara yang terdiri dari koki, pemilik restoran, pengusaha makanan, petani, penulis buku masak, peneliti dan pegiat kuliner.

Para pembicara ini akan menceritakan inspirasi, pengalaman pribadi dan penemuan menarik mereka yang dirasa telah mengubah dan ikut mengembangkan industri kuliner Indonesia.

Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC dijadwalkan ulang. Festival yang awalnya diagendakan pada 17-19 April 2020 mendatang, akan tetapi menimbang situasi dunia terkini terkait Corona Virus (COVID019), tim UFF20 memutuskan untuk menunda pelaksanaan festival menjadi tanggal 26-28 Juni 2020.

Keputusan ini dirasa tepat karena sudah semestinya tim penyelenggara menghadirkan suatu festival yang aman, sehat, menyenangkan dan tidak berpotensi membahayakan penikmatnya.

Ubud Food Festival 2020

Mundurnya waktu pelaksanaan mestinya diisi dengan mematangkan konsep acara. Tim UFF20 dalam gelaran Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC akan membawa konsep tradisional dalam acaranya. Hal ini diungkapkan oleh Founder & Director yayasan nirlaba Mudra Swari Saraswati, Janet DeNeefe, dalam suguhan diskusi menarik kemarin (6/3) yang bertajuk “Budaya Kuliner Indonesia dan Pentingnya Tradisi”.

“The Food is going back to tradition. Beberapa waktu silam saya menghadiri konferensi di Istanbul. Dalam konferensi ini dirumuskan bahwa makanan yang nantinya dicari adalah makanan yang terdapat unsur-unsur tradisionalnya”, ungkap Janet.

Informasi yang disampaikan oleh Janet ini mestinya membuka mata kita semua bahwasannya kita hidup di tanah yang kaya dengan kuliner tradisional, kuliner lokal. Tiba waktunya kita kembali ke lokalitas kita. Hal ini senada dengan pemaparan dari Singgih Susilo Kartono, Pendiri Pasar Papringan.

“Masa depan itu ada di desa. Desa itu kaya, punya banyak potensi. Di Papringan misalnya, ada 100 lebih jenis makanan. Makanan-makanan ini nuansanya lokal, tanpa MSG, pewarnanya asli. Sebenarnya, dengan mengembangkan kuliner tradisional kita sudah sangat dekat dengan masa depan. Sayangnya, banyak dari kita masih punya pola pikir bahwasannya tradisional itu bagian dari masa lalu saja”, tambah Singgih Susilo.

Kembalinya kuliner pada corak tradisional bisa menjadi momentum bersama untuk kembali menengok warisan kuliner leluhur bangsa Indonesia. Indonesia memiliki budaya kuliner yang kuat di berbagai tempat. Jadi, ini saatnya menemukan keseimbangkan kembali.

“Dalam bidang kuliner sebenarnya anak muda sudah menunjukkan ketertarikannya. Kalau dalam dunia arak sendiri, sejak tahun 2013 sudah banyak anak muda yang antusias membuat fermentasi. Jadi, tujuan dan arah kita sekarang tentang bagaimana membuat yang baik dan benar, kembali ke akar tradisi. Misal dengan membuat ragi sendiri. Pengetahuan ini didapatkan darimana? Dari masyarakat langsung. Banyak pengetahuan di depan mata kita yang bisa didapat dari masyarakat, tapi kadang kita suka gak sadar saja”, ungkap Pendiri Pondoh, Rangga Purbaya.

Ubud Food Festival 2020

Ketika membicarakan masa depan kuliner Indonesia, kita tidak dapat mengabaikan peran para pemuda yang nantinya akan menjawab akan dibawa kemana Indonesia. Sejauh ini, peran pemuda dalam kuliner di berbagai tempat sudah terasa. Namun, ada banyak pula yang masih memilih kuliner-kuliner kekinian. Oleh sebab itu, diperlukan berbagai cara untuk mengajak anak muda cinta dengan kuliner-kuliner lokal.

“Kita harus mengajak semua orang khususnya anak-anak muda untuk kembali menengok kuliner-kuliner tradisional. Oleh sebab itu dibutuhkan generasi tua yang menjadi panutan agar generasi muda bisa ikut mengapresiasi makanan tradisional. Itu bisa jadi salah satu caranya”, pungkas Janet.

Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC akan berlabuh pada kembalinya konsep kuliner tradisional. Akan banyak hal-hal tentang kuliner lokal yang ditonjolkan. Pada gelaran ini, akan banyak disoroti pula orang-orang di balik layar kuliner Indonesia, para petani, para nelayan, dan para inovator.

Sampai jumpa di Bali untuk menikmati sajian kuliner tradisional berbagai kota di Indonesia yang pastinya akan banyak mengkombinasikan konsep “homey” dan “comfortable food.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *