JOGJA MENYAPA Cara Paniradya Kaistimewan Sambut Mahasiswa Baru

JOGJA MENYAPA: Ngaruhke, Ngarahke – Tepung, Dunung, Srawung akan diselenggarakan oleh Paniradya Kaistimewan untuk menyambut para mahasiswa baru di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada hari Selasa tanggal 20 Agustus 2019 dari pukul 16:00 WIB hingga 22:00 WIB di Pelataran Soegondo, halaman Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta.

Acara yang terbuka untuk mahasiswa baru dari semua kampus di Jogja dan gratis ini merupakan hasil kerjasama antara Paniradya Kaistimewan, Bank Pembangunan Daerah DIY dan Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Sederet kegiatan telah dirangkai sedemikian rupa antara lain, guyonan, gojekan, plesetan, dialog budaya, tarian tradisional dari beberapa daerah Indonesia (Rampoe UGM, Tarian Sumba, Tarian Halmahera), penampilan Beksan Wanara dari Kraton Jogja, Semata Wayang, Traffix Jam, Keroncong Plesiran, Sastro Moeni, Trio A Selososelo serta penampilan paling spesial dari Lord Didi Kempot.

JOGJA MENYAPA Cara Paniradya Kaistimewan Sambut Mahasiswa Baru

Lord Didi Kempot, penyanyi berusia 52 tahun yang dijuluki sebagai The Lord of Broken Heart dalam acara JOGJA MENYAPA akan menyanyikan sejumlah lagu hits miliknya yang identik dengan lirik Jawa dalam rangka memperkenalkan budaya Jawa kepada mahasiswa baru di Jogja.

Lord Didi Kempot tidak hanya akan mengajak mahasiswa baru untuk menyanyikan lagu-lagunya demi Indonesia yang lebih cidro, akan tetapi melalui acara JOGJA MENYAPA: Ngaruhke, Ngarahke – Tepung, Dunung, Srawung, Lord Didi Kempot juga hadir sebagai pembawa pesan tentang Keistimewaan Jogja.

“Tidak harus menjadi orang Jawa untuk tinggal di Jogja. Tetaplah menjadi orang Batak, Dayak, Papua, dan sebagainya”, tutur Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY.

“Ngaruhke, Ngarahke” yang menjadi tagline dari acara JOGJA MENYAPA adalah tindakan-tindakan awal yang kerap dilakukan masyarakat DIY ketika menyambut tamu atau warga baru.

Ngaruhke maksudnya menerima, menyambut, atau sapaan sugeng rawuh/selamat datang. Sedangkan, Ngarahke maksudnya mengarahkan atau menunjukkan berbagai hal tentang DIY, sehingga antar warga baru dan tuan rumah dapat saling mengenal dan memahami.

Dengan saling mengenal dan memahami, harapannya para warga baru, dalam hal ini para mahasiswa baru, bisa Tepung (paham dan mengerti), Dunung (mengenal lebih dekat), dan Srawung (menjalin hubungan lebih dekat dan akrab). Sehingga proses akulturasi dan inkulturasi budaya antara para warga baru dengan masyarakat DIY berlangsung dengan tetap mengedepankan semangat bhinneka tunggal ika yang sudah tertanam sejak lama.

Harapannya para warga baru DIY yang berasal dari mahasiswa baru dengan beragam latar belakang budaya menjadi paham nilai-nilai sosial yang berlaku di Jogja, tanpa harus kehilangan nilai-nilai sosial yang telah mereka miliki dari kota asal mereka. Inilah yang membuat Jogja Istimewa.

The Lord of Broken Heart - Didi Kempot
The Lord of Broken Heart – Didi Kempot

“Keberagaman tidak harus menjadi keseragaman, tapi bisa menjadi keselarasan”, ujar Drs. Beny Suharsono, M.Si, Paniradya Pati (Pimpinan Paniradya Kaistimewan).

Paniradya Kaistimewan sendiri merupakan perangkat daerah baru yang dibentuk awal tahun 2019 ini oleh Pemda DIY berdasarkan Perdais No. 1 Tahun 2019 tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Lembaga ini bertugas membantu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam penyusunan kebijakan urusan keistimewaan dan pengoordinasian administratif urusan keistimewaan.

Penentuan nama Paniradya Kaistimewan pun berdasarkan hasil konsultasi dengan ahli sejarah, mengingat lembaga itu sebelumnya sudah ada di kelembagaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Momentum datangnya para mahasiswa baru di DIY dipandang oleh Paniradya Kaistimewan sebagai saat yang tepat untuk mengenalkan nilai-nilai keistimewaan Jogja. Baik sisi sosial kemasyarakatan, pola perilaku kesantunan, keramahtamahan, seni, budaya, kuliner, dan berbagai hal yang menarik dan unik lainnya.

Sedangkan Universitas Gadjah Mada sengaja dipilih sebagai lokasi berlangsungnya acara JOGJA MENYAPA karena alasan kedekatan historis baik dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, maupun dengan masyarakat Indonesia dari berbagai belahan bumi Indonesia.

“Dari Jogja untuk Indonesia. Mari kita berkembang bersama”, tutup Santoso Rohmad dan Dirut BPD DIY.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *