Busana Kanca Wiyaga Kraton Jogja, Dari Masa ke Masa

infoseni.id – Salah satu aspek kebudayaan Jawa yang dapat kita pelajari perubahannya adalah busana Kanca Wiyaga atau abdi dalem pemain gamelan di Keraton Yogyakarta.

Jennifer Lindsay, peneliti dari The Australian National University (ANU), memaparkan hal ini di Simposium Internasional Budaya Jawa: Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta yang diselenggarakan di Kasultanan Ballroom, Royal Ambarukmo Hotel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Selasa (10/3) pagi.

“Ketika berbicara tentang Jawa, pertanyaan yang selalu ada adalah Jawanya siapa dan Jawanya kapan?” ujar Lindsay mengawali paparannya di hari kedua Simposium Internasional Budaya Jawa: Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta.

r. Jennifer Lindsay dari The Australian National University salah seorang pembicara di Simposium Internasional Kraton Jogja

Peraturan pakaian juga berlaku di Vorstenlanden, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pakaian sangat penting untuk membedakan antarkelas masyarakat.

Lindsay kemudian menampilkan foto dari Kanca Wiyaga di Keraton Yogyakarta pada tahun 1880 atau pada awal kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono ke-VIII. Foto ini diambil oleh Kassian Cephas. Terlihat para abdi dalem Kanca Wiyaga tidak menggunakan atasan dalam foto tersebut.

Para penabuh gamelan tampak tanpa baju.

Kanca Wiyaga sendiri merupakan abdi dalem tingkat rendah, jadi di era itu, tidak mungkin bangsawan menabuh gamelan. Lain halnya dengan penari yang dapat dilakukan oleh bangsawan.

Lain lagi di era tahun 1930-an, Kanca Wiyaga pada foto tahun tersebut, sudah menutupi bagian atas tubuhnya. Terlihat para penabuh gamelan menggunakan pakaian peranakan dan bukan telanjang dada seperti di foto tahun 1880.

“Dapat dimengerti bahwa orang-orang nasionalis tidak mau memakai pakaian Jawa, melainkan Eropa. Karena pada saat itu pakaian Jawa dianggap sebagai ‘belenggu’. Jadi mereka menggunakannya untuk memperlihatkan bahwa mereka modern. Namun, ada unsur Nusantara yang tetap dipakainya yaitu dalam penggunaan peci”, jelas Lindsay saat menunjukkan foto Soekarno di Bandung pada tahun 1930-an. Foto tersebut diambil belasan tahun sebelum Soekarno menjadi presiden Republik Indonesia.

Ir. Soekarno tampak mengenakan jas dan peci

Pasca kemerdekaan RI, tahun 1950, sekolah pendidikan gamelan pertama di Indonesia didirikan dengan nama Konservatori Gamelan di Surakarta.

Lindsay menampilkan foto tahun 1953 yang memperlihatkan para pemain gamelan tidak menggunakan pakaian Jawa melainkan jas dengan kopiah. Mereka duduk di kursi, alih-alih lesehan. Menurut Lindsay, mereka menggunakan pakaian tersebut karena tidak ingin ada asosiasi dengan sistem hirarki Jawa.

Di kampus yang sama, pada tahun 1960-an, terlihat juga laki-laki menggunakan pakaian modern. Sedangkan, perempuan menggunakan kebaya. Dalam hal ini, Lindsay berpendapat bahwa muncul kesan dalam budaya Jawa, perempuan memiliki beban melestarikan budaya.

“Terlihat sepertinya wanita selalu menanggung beban melestarikan budaya”, ujar Lindsay yang disambut tawa oleh audiens Simposium Internasional Budaya Jawa: Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta.

Namun, hal tersebut akan berbeda jika dibandingkan ketika penabuh gamelan dibawa ke luar negeri. Terlihat pada foto tahun 1879, penabuh gamelan mengenakan pakaian Eropa dengan jaket, hem dan dasi kupu-kupu. Akan tetapi, para penabuh gamelan tersebut mengenakan penutup kepala ala Jawa. Hal tersebut seringkali diminta oleh pihak asing.

Konser lulusan pertama Konservatori Karawitan Indonesia pada 1953 di Jakarta

Yang terjadi pasca kemerdekaan yaitu pada tahun 1953, situasinya sedikit berbeda. Ditampilkan foto Konservatori Gamelan Surakarta saat tampil di Bangladesh. Terlihat beskap, blangkon dan kain batik digunakan oleh orang-orang tersebut.

Batik yang digunakan penabuh gamelan terlihat tidak terafiliasi oleh keraton manapun dan mereka menggunakan selop. Hal ini menyiratkan identitas mereka sebagai orang Jawa tapi tidak terafiliasi oleh sistem hirarkis Jawa.

Pada era yang sama, Mantle Hood belajar gamelan ke Jaap Kunst (ahli gamelan dari Belanda). Kemudian Mantle Hood ke Jawa dan membawa Hardjo Susilo dari Jogja untuk membuat program gamelan di Amerika Serikat, tepatnya University of California, Los Angeles (UCLA), pada tahun 1958.

Sebagai bagian dari program musik dunia, maka gamelan pun perlu ada pementasan. Terlihat pada foto yang ditampilkan, para pemain gamelan menggunakan pakaian Jawa meskipun pemain merupakan orang kulit putih. Pada era itu, musik-musik dunia sedang digandrungi, apalagi budaya hippie sedang digandrungi anak  muda.

Musik-musik Jawa pada era itu bersaing dengan musik-musik dunia lainnya termasuk musik India. Jadi, tujuan mengenakan pakaian Jawa adalah menarik perhatian sehingga kegiatan bermain musik Jawa dapat di danai, terang Lindsay.

Hal ini cukup unik jika dibandingkan. Pemain gamelan di negara asalnya menggunakan pakaian modern sedangkan pemain gamelan di Amerika menggunakan pakaian Jawa.

Impresi dari instruktur gamelan yang berasal dari Jawa pada saat itu tidak negatif, melainkan merasa bahwa hal ini menghibur mereka. Melihat fenomena tersebut, Lindsay pun menyimpulkan bahwa budaya Jawa tidak hanya milik orang Jawa melainkan milik siapapun yang berniat mempelajarinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *